SELAMAT DATANG DI MWI KARANGDUWUR PETANAHAN KEBUMEN

SELAMAT DATANG DI MWI KARANGDUWUR PETANAHAN KEBUMEN
Terima Kasih anda telah membuka Blog kami, semoga informasi yang Anda cari, dapat ditemukan.

Jangan lupa, Klik Juga Posting Lama atau Posting Baru.
Tempat Klik nya ada di bagian paling bawah halaman ini.

Kamis, 08 April 2010

Biografi Syaikh Ali Hasan Al-Halaby Al-Atsari. Penyusun Kitab 'Ilmu Ushul Al-Bida'.

Biografi Syaikh Ali Hasan Al Halaby hafizhahullah
Beliau adalah Syaikh Abul Harits Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid As Salafy Al Atsary. Beliau lahir di kota Zarqa Yordania, 29 Jumadits Tsani 1380 H. (1960 M)

Studi dan Guru-Guru Beliau.
Ayah dan kakeknya hijrah ke kota Yordania dari kota Yafa Palestina pada tahun
1368 H/1948 M, karena penjajahan Yahudi (Laknat Allah atas Yahudi). Beliau memulai
studi ilmu-ilmu agama di saat usia beliau belum melebihi dua puluh tahun, guru beliau yang paling menonjol adalah Al 'Allamah Asy Syaikh ahli Hadits Muhammad
Nashiruddin Al Albani ( semoga rahmat Allah tercurah padanya), kemudian syaikh ahli
bahasa Abdul Wadud Az Zarazi (semoga rahmat Allah tercurah padanya) dan ulama-ulama lainnya. Beliau berjumpa dengan gurunya yaitu syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani di akhir tahun 1977 di kota Amman Yordania. Beliau belajar pada syaikh Al Albani kitab "Iskaalat Al Baiul Hatsis" pada tahun 1981, dan beliau juga mempelajari kitab-kitab Musthalahul Hadits lainnya. Beliau memiliki ijazah-ijazah (pengakuan) dari sejumlah ulama, di antaranya syaikh Badiuddin As Sanadi, dan juga Al 'Allamah Al Fadhil Muhammad As Salik Asy Syinqithi (semoga rahmat Allah tercurah pada mereka) dan ulama-ulama lainnya.

Pujian Ulama Terhadap Beliau.

Sejumlah ulama yang terkemuka memuji beliau, di antaranya: Asy-Syaikh Al-Allamah
ahli hadits yang berilmu tokoh pembela sunnah Muhammad Nashiruddin Al-Albani (semoga rahmat tercurah padanya) sebagaimana dalam kitab Silsilah Ahadits Ash
Shahihah 2/720 tatkala syaikh Al Albani menjelaskan kedustaan "penghancur sunnah"
Hasan Abdul Manan; beliau berkata: " ….penjelasan yang luas dalam menerangkan
kesalahan ucapannya dalam melemahkan hadits itu membutuhkan satu karya khusus,
dan ini yang tidak mungkin bagi saya lantaran keterbatasan waktu, semoga sebagian
saudara-saudara kami yang mempunyai kemampuan hebat dalam ilmu hadits ini
mengarang kitab tentangnya, seperti misalnya al-Akh Ali al-Halabi."

Lihat juga Muqaddimah kitab at-Ta'liqat Ar-Raudhiyyah ala ar-Raudhah an-Nadiyyah
dan kitab Adabuz Zifaf cetakan Al Maktabah Al Islamiyyah. Beliau juga dipuji oleh syaikh bin Baz (semoga rahmat Allah tercurahkan padanya) di mana syaikh mengomentari kitabnya: "Sesungguhnya kitabnya beraqidah dan bermanhaj salaf"
Demikian juga syaikh Bakr Abu Zaid memuji beliau dalam kitabnya: Tahrifunnusus
min Maaqod Ahlil Ahwa fil Istidlal hal 93-94.Demikian juga syaikh Al Allamah ahli hadits Muqbil bin Hadi alWadi'I (semoga rahmat Allah tercurah padanya) memuji beliau. Syaikh Muqbil menuturkan: "sesudah ini, aku melihat sebuah karya bagus yang berjudul Fikhul Waqi Baina An Nadhariyyah wat Tathbiq karya saudara kami Ali bin Hasan bin Abdul Hamid, saya menasihatkan agar membaca kitab itu, semoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Syaikh Muqbil juga menukil karya syaikh Ali Hasan ini dalam kitabnya yang berjudul Gharah al-Asrithah ala ahlil Jahli was Safsatah beliau menyebutkannya "Saya tidak pernah mengetahui semisal ini". Demikian juga syaikh Al Allamah ahli hadits Abdul Muhsin alAbbad (semoga Allah menjaganya) juga memuji beliau. Dalam kitabnya yang menawan Rifqon Ahli Sunnah bi Ahli Sunnah cetakan kedua yang diperbaharui 1426 H, hal. 98 menuturkan: "Aku juga mewasiatkan kepada para penuntut ilmu di seluruh negeri agar mengambil faedah dari para ahli ilmu yang berkecimpung dalam masalah ilmu dari kalangan ahli sunnah di negeri ini semisal murid-murid syaikh alAlbani di Jordania, yang mendirikan sebuah markaz yang menggunakan nama syaikh al-Albani sepeninggal beliau".

Aktivitas Dakwah Beliau.
Beliau salah seorang pendiri majalah Al Ashalah yang terbit di negara Yordania, beliau salah seorang dewan redaksi dan penulis dalam majalah ini. Beliau termasuk pendiri markaz Imam Albani. Beliau aktif menulis makalah-makalah yang terbit tiap pekan di Koran Al Muslimun yang terbit di London Inggris, dalam rubrik "asSunnah", hal ini berlangsung sekitar dua tahun semenjak tanggal 18 Rabiul Awal 1417.
Beliau pernah mengikuti berbagai muktamar Islam, kegiatan dakwah dan dauroh
ilmiah di berbagai Negara, dan ini sering beliau lakukan, seperti Negara: Amerika,
Inggris, Belanda, Hongaria, Kanada, Indonesia, Perancis dan Negara-negara lainnya.
Beliau juga pernah di undang di berbagai Universitas di Yordania untuk berceramah
dan pertemuan-pertemuan, semisal: Universitas Yordania, Universitas Yarmuk, Universitas Az-Zaitunah

Karya-Karya dan Buku-Buku Yang Telah Diteliti Beliau.

Karya-karya dan buku-buku yang telah diteliti beliau lebih dari 150 judul, yang
terdiri atas buku yang tidak terlalu tebal maupun yang berjilid-jilid, di antara karya beliau yang paling penting:
1. Ilmu Ushulul Bida’
2. Dirasah Ilmiyyah fi Shahih Muslim
3. Ru'yatun Waqiah fil Manahij ad-Dakwiyyah
4. An Nukatu ala Nuzhatin Nadhar
5. Ahkamus Sita
6. dan lain-lain
Adapun buku-buku yang diteliti beliau :
1. Mifatahu Daris Sa'adah karya Ibnul Qayyim, 3 jilid
2. At Ta'liqat arRaudiyyah ala arRaudah anNadiyyah karya alAlbani, 3 jilid
3. Al-Baisul Hasis karya Ibnu Kasir, 2 jilid
4. Al-Huttah fi zikri asShihah as-Sittah, karya Sodiq Hasan Qan
5. Ad-Daawad Dawaa karya Ibnul Qayyim, 1 jilid
6. dan lain-lain
Sejumlah karya beliau ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, di antaranya:
Perancis, Urdu, Indonesia dan lain-lain.

Sumber:

www.alhalaby.com
www.muslim.or.id
www.salafindo.com

Biografi Ahmad Ibn Hanbal. Ulama yang melarang para murid-muridnya menuliskan perkataan-perkataan darinya dan hasil istimbath hukumnya.


AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH,
IMAM AHLUS SUNNAH

Oleh :Rusdi At-Tibinjy

Al-Muzni berkata, Imam Asy-Syafi’i berkata kepadaku, “Di Baghdad adaseorang pemuda ketika ia berkata haddatstsana, maka semua orang akan percaya kepadanya dan membenarkan ucapannya.” Ketika aku bertanya tentang siapakah pemuda itu maka Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Pemuda itu adalah Ahmad bin Hambal.”

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad din Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin Auf bin Qasath bin Mazin bin Syaiban bin Dzahl bin Tsa’labah bin Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakar bin Wa’il bin Qasith bin Hanab bin Qushay bin Da’mi bin Judailah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazzar bin Ma’d bin Adnan. Nasab Imam Ahmad bin Hambal bertemu dengan Rasulullah pada Nazzar.

Dari Muhammad bin Abbas An-Nahwi, dia berkata, “Aku pernah melihat Ahmad bin Hambal, dia berwajah tampan, berbadan sedang, bercelak, dan jenggotnya berwarna hitam. Dia mengenakan pakaian dari kain kasar yang berwarna putih dengan sorban dikepala dan selendang dipundaknya”. Dia adalah salah seorang sahabat yang istimewa bagi Imam Asy-Syafi’i. Hubungan persahabatan mereka berdua selalu terjalin dengan amat baik sampai Imam Asy-Syafi’i meninggalkan Baghdad menuju Mesir. Harmalah menceritakan bahwa pada waktu Imam Asy-Syafi’i bertolak ke Mesir dari Irak ia berkata, “tidak aku tinggalkan di Irak orang yang menyerupai Ahmad bin Hambal.”

Kelahirannya.

Ibunya mengandungnya di Moro kemudian pergi ke Baghdad lalu melahirkan Ahmad bin Hambal pada bulan Rabiul Awal tahun 164 Hijriyah. Ayah Imam Ahmad bin Hambal (yang bernama) Muhammad adalah seorang walikota daerah Sarkhas dan salah seorang anak penyeru Daulah Abbasiyah. Muhammad meninggal pada usia tiga puluh tahun pada tahun 179 Hijriyah. Awal Menuntut Ilmu dan Perjalanan Menuntut Ilmu Al-Ulaimi berkata yang ringkasnya adalah sebagai berikut, “Sejak kecil Ahmad bin Hambal sudah menampakkan tanda-tanda kelebihannya dengan menguasai berbagai disiplin Ilmu dan banyak menghafal hadits. Ketika dia hendak pergi pagi-pagi sekali untuk mencari hadits, ibunya mengambilkan baju untuknya sambil berpesan, “tunggulah sampai terdengar adzan atau sampai orang-orang keluar di waktu pagi.”

Dia telah menempuh rihlah (perjalanan untuk mencari Ilmu) keberbagai negara,seperti Kufah, Bashrah, Hijaz, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, Tsaghur, daerah-daerah pesisir, Maroko, Al Jazair, Persia, Khurasan, daerah pegunungan, serta ke lembah-lembah dan lain sebagainya. Dia sudah mencari hadits sewaktu berumur enam belas tahun dan masuk ke Kufah untuk pertama kali dalam perjalanan rihlahnya pada saat Husyaim meninggal yaitu pada tahun 183 Hijriyah. Kemudian dia memasuki Kufah pada tahun 186 Hijriyah dan berguru pada Sufyan bin ‘Uyainah. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan menuju Makkah pada tahun 187 Hijriyah dimana Al-Fudhail bin Iyadh meninggal. Pada tahun itu juga ia melaksanakan haji untuk pertama kalinya. Dia berguru kepada Abdurrazaq di Shan’a daerah Yaman pada tahun 197 Hijriyah dan akhirnya menemani Yahya bin Ma’in.

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Al-Khathib dengan sanadnya dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal dari Abu Zur’ah Ar-Razi dia berkata, “Ahmad bin Hambal telah hafal sebanyak 1.000.000 (satu juta) hadits.” Ketika hal itu ditanyakan kepada Ahmad, “bagaimana kamu dapat menghafalnya ?” maka Ahmad menjawab, “Aku selalu mempelajarinya dengan menjadikannya beberapa bab.”

Al-Husain bin Muhammad bin Hatim yang terkenal dengan sebutan Abid Al-Ajl dari Mihnan bin Yahya dia berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih baik dalam segala hal dari Ahmad bin hambal. Aku telah melihat Sufyan bin ‘Uyainah, Waqi’ bin Al-Jarrah, Abdurrazaq, Baqiyyah bin Al-Walid dan Dhamrah bin Rabi’ah serta ulama yang lain akan tetapi aku tidak melihat orang yang seperti Ahmad bin Hambal dalam keilmuan, kepandaian, zuhud, dan kewara’an.”

Imamnya para Imam,

Ibnu Khuzaimah, memberitahukan dari Muhammad bin Sahtawaih dari Abu Umair bin An-Nuhhas Ar-Ramali berkata, “Sungguh betapa besar kesabarannya terhadap dunia, sungguh dimasa lalu tidak ada orang yang menyamainya dan sungguh betapa dekatnya ia dengan orang sholeh. Ketika ditawarkan kepadanya kemewahan dunia, maka dia menolaknya dan terhadap bid’ah maka ia menentangnya.” Dari Al-Husain bin Ismail dari ayahnya, ia berkata, “Dalam halaqoh pengajian Ahmad bin Hambal biasanya berkumpul kira-kira 5000 (lima ribu) murid atau lebih. Diantara mereka itu, minimal terdapat lima ratus ahli hadits menulis hadits sementara selebihnya adalah orang-orang yang belajar akhlak dan budi pekertinya.”

Karya-karyanya

Ibnu Jauzi berkata, “Ahmad bin Hambal tidak pernah kelihatan menulis kitab dan dia juga melarang untuk menulis perkataan dan masalah-masalah dari hasil istimbatnya.
Walaupun begitu, dia mempunyai karya yang banyak disamping menelurkan karya Al-Musnad yang didalamnya terdapat 30.000 (tiga puluh ribu) hadits. Adz-Dzahabi menambahkan, “Kitab karyanya yang lain adalah kitab Al-Iman dan kitab Al-Asyribah. Kedua kitab ini lembaran-lembarannya merupakan lembaran dari kitab karyanya Al-Faraidh.

Guru dan Murid-Muridnya

Guru-gurunya : Sebagaimana disebutkan Al-Khathib diantara guru-gurunya adalah : Ismail bin Ulaiyah, Husyaim bin Busyair, Hammad bin Khalid Al-Khayyad, Manshur bin Salamah Al-Khaza’I, Al-Muzhaffar bin Mudrak, Utsman bin Umar bin Fasis, Abu An-Nadhr Hasyim bin Al-Qasim, Abu Said maula Bani Hasyim, Muhammad bin Yazid, Yazid bin Harun Al-Wasithiyin, Muhammad bin Abi Adi, Muhammad bin Ja’far Ghundar, Yahya bin Said Al-Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, Bisyr bin Al-Mufadhdhal, Muhammad bin Bakar Al-Barsani. Selain mereka, masih banyak lagi guru Imam Ahmad bin Hambal. Al-Mizzi dalam kitab karyanya Tahdzib Al-Kamal manyebutkan bahwa guru Imam Ahmad bin
Hambal itu sebanyak 104 (seratus empat) orang. Murid-muridnya : Diantara orang yang meriwayatkan hadits dari Ahmad antara lain ; Kedua anaknya yang bernama Shaleh dan Abdullah, seorang anak paman Imam Ahmad yang bernama Hambal bin Ishaq, Al-Hasanbin AshShabbah Al-Bazzar, Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani, Abbas bin Muhammad bin Ad-Duri, Muhammad bin Ubaidillah Al-Munadi, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Muslim
bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Abu Zur’ah, Abu Dawud As-Sijistani, Ibrahim Al-Harbi
dan lain-lain.

Keteguhannya Mengikuti Sunnah
Imam Ahmad berkata, “Aku tidak pernah menulis satu pun hadits Rasulullah
kecuali hadits itu sudah aku amalkan. Ketika aku menjumpai hadits, “Sesungguhnya Rasulullah pernah berobat dengan berbekam dan memberi upah Abu Thaibah satu Dinar”(HR.Al-Bukhari,4/380,Muslim,10/242,Malik,2/974). Maka akupun telah mempraktekkannya dengan memberikan upah satu dinar kepada tukang bekam.” Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengatakan, “Aku tidak pernah melihat ayahku bercerita tanpa kitab kecuali kurang dari seratus hadits, aku juga pernah mendengar ayahku berkata, “Imam Asy-Syafi’i berkata kepadaku, “Wahai Abu Abdillah, apabila kamu menjumpai hadits yang menurutmu shahih, maka tolong beritahukan kepadaku agar aku mengikutinya, baik hadits dari Kuffah, Bashrah, maupun dari Syam. Sesungguhnya kamu lebih tahu tentang hadits yang shahih dari pada aku.”


Cobaan yang Menimpanya

Secara silih berganti dan berurutan Ahmad bin Hambal menghadapi cobaan
dari empat penguasa sekaligus yaitu Al-Makmun,Al-Mu’tashim,Al-Watsiq dan Al-
Mutawakkil. Diantara keempatnya ada yang mengancam dan menteror ada yang
memukul dan memasukkannya kepenjara, ada yang menggiring dan berlaku kasar
kepadanya dan yang terakhir mengiming-imingi kekuasaan dan harta kekayaan.
Ini salah satu dialog Imam Ahmad bin Hambal dengan Al-Mu’tashim. Al-
Mu’tashim berkata, “Apa pendapatmu tentang Al-Quran?”. Dia menjawab, “Al-
Quran adalah firman Allah yang Qadim dan bukan makhluk. Allah telah berfirman,
“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengan firman Allah” (At-
Taubah : 6)
Al-Mu’tashim bertanya lagi, “Apakah kamu mempunyai Hujjah yang lain ?”
Dia menjawab, “ada, yaitu firman Allah yang berbunyi,
“[Tuhan] yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran.”(Ar-
Rahman : 1-2)
Dalam ayat ini Allah tidak berfirman, “[Tuhan] yang Maha Pemurah, yang
menciptakan Al-Quran.” Allah juga berfirman,
“ Yaa Siin. Demi Al-Quran yang penuh hikmah.” (Yasin :1-2)
Dalam ayat ini Allah tidak berfirman, “Yaa Siin. Demi Al-Quran yang
makhluk.”
Setelah mendengar penjelasan Imam Ahmad ini, Al-Mu’tashim lalu berkata,
“Penjarakan dia”.
Pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau sangat memperhatikan
kesejahteraan, memuliakan dan mengagungkan Ahmad bin Hambal. Al-Mutawakkil
memberikan baju, uang dirham dan baju mantel kebesaran kepada Imam Ahmad.
Namun Imam Ahmad menyingkap pemberian itu justru dengan menangis seraya
berkata, “sejak enam puluh tahun aku dapat selamat dari ini semua, akan tetapi di
penghujung usiaku, Engkau uji aku dengan ini.”

Sakit dan Meninggalnya

Imam Al-Bukhari berkata, “Abu Abdillah mulai sakit dua malam memasuki bulan Rabiul Awal dan meninggal pada hari jum’at tanggal 12 Rabiul Awal.” Al-Khallal berkata, “Al-Marwazi berkata, “Jenazahnya dikuburkan dari rumah duka setelah orang-orang selesai menunaikan sholat Jum’at.” Rasulullah bersabda,
“Tidak meninggal seorang yang berIslam pada hari Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR.Ahmad,2/169,At-Tirmidzi,9/195)
Abu Bakar Al-Khallal berkata, “Aku telah mendengar Abdul Wahab Al-Warraq berkata, “kami belum pernah tahu ada kumpulan manusia sebanyak ini baik di masa Jahiliyah maupun setelah masa Islam. Semua tempat penuh dengan manusia, jumlah mereka yang turut mengiringi jenazahnya mencapai sekitar 1000.000 (satu juta) orang. Turut hadir di perkuburannya perempuan sekitar 60.000 (enam puluh ribu) orang. Begitu banyaknya manusia sehingga para penduduk setempat membuka pintu rumah mereka untuk tempat wudhu.

Sumber :
Min A’lam as-Salaf ( 60 Biografi Ulama Salaf )
Syaikh Ahmad Farid

Rabu, 07 April 2010

Mahfudhzat

Pelajaran Mahfudhzat Kelas VIII
Dars 17
Telah berkata sebagian Penyair
Ilmu itu adalah harta simpanan yang tidak akan rusak.
Sebaik-baik teman adalah, manakala teman kita itu selalu menemani (baik dalam keadaan susah maupun bahagia).
Adakalanya orang yang mengumpulkan harta benda, dia akan menjadi mulya.
Namun sebentar kemudian orang tersebut akan jatuh dalam kerendahan dan kehancuran.
Adapun orang yang mengumpulkan ilmu, dia akan beruntung dengan ilmu itu selamanya.
Orang yang punya ilmu, tidak akan merasa khawatir bahwa ilmunya itu akan habis atau terampas.
Hai orang-orang yang suka mengumpulkan! Ketahuilah, bahwa ilmu itu adalah sebaik-baiknya harta simpanan.
janganlah sekali-kali kamu menyamakan ilmu itu dengan mutiara atau jangan pula kau samakan dengan emas.

Dars 16
Telah berkata Imam 'Ali ibn Abi Thalib Karamallahu wajhah.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang lemah dari bersyukur terhadap apa yang telah datang kepadamu.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang mencari tambahan dari apa yang telah ada.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang melarang namun dia tidak bisa meninggalkan perbuatan yang dilarang itu.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang menyuruh kepada manusia, namun orang itu tidak mampu untuk mengerjakan.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang mencintai orang-orang saleh, namun orang itu tidak mau mengamalkan amalan-amalan orang-orang saleh.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang benci kepada para pembuat dosa, namun orang itu justru termasuk dari para pendosa itu.
Janganlah kamu menjadi seperti orang yang takut mati karena banyaknya dosa yang dimiliki, namun orang itu juga tidak mau meninggalkan perbutan-perbuatan dosa sepanjang hidupnya.

Dars 15
Telah Berkata Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu.
dan jadilah kamu orang yang kuat saat menghadapi masalah.
Tanda-tanda orang yang kuat itu adalah memiliki sifat lapang dada dan dermawan.
karena akan ditutup setiap cela (yang kamu miliki) dengan sifat lapang dada, dan akan ditutupi cela-cela lainnya dengan kedermawananmu.
Dan janganlah kamu mengharap sifat lapang dada itu ada pada orang yang bahil (kikir).
Karena tidak ada beserta api itu kehausan air.
Jika kamu memiliki hati yang qana'ah (menerima) maka kamu telah menjadi orang yang paling kaya sedunia.

Dars 14
Telah berkata 'Ali ibn Abi Thalib karamallahu Wajhah:
"Aku berwasiat kepadamu 5 perkara"
Janganlah sekali-kali kamu berharap tentang sesuatu apapun, kecuali kepada Tuhanmu (Allah SWT).
Janganlah sekali-kali kamu merasa khawatir kecuali tentang dosa-dosamu.
Janganlah sekali-kali kamu merasa malu, tatkala kamu ditanya tentang sesuatu yang kamu tidak mengetahui, kamu menjawab" Saya Tidak Tahu!"
Dan jika kamu memang tidak mengetahuinya, maka segeralah cari tahu (Belajarlah).
Dan ketahuilah, sesungguhnya kesabaran itu sebagian dari iman, seperti kedudukan kepala dengan badan. apabila terpotong kepala maka tak ada gunanya badan, demikian juga jika hilang kesabaran (yang kamu miliki) maka telah hilanglah keimananmu.

Aliran sesat, waspadailah!!! Aliran Baru: Al-Haq

Bulan April tahun 2010 ini, Indonesia kembali digegerkan oleh adanya aliran sesat yang bernama Al-Haq. Di Sumatera utara, ada sekitar 38 putri berjilbab hilang dan diduga mengikuti aliran sesat Al-Haq. Aliran sesat ini sebetulnya sudah tercium sejak tahun 2007, dan ternyata secara diam-diam gerakan ini terus mencari pengikut, yang kebanyakan dari kaum hawa. Dan anehnya aliran ini berkembang secara pesat di setiap provinsi. Perekrutan ini tidak hanya dilakukan di masjid-masjid kampus, mushala sekolah, atau tempat-tempat mangkal siswi-siswi setelah sekolah, namun juga di mall dan di tempat-tempat umum seperti: setasiun, terminal, dan warung. Modus operandinya adalah:
1. Mengajak perkenalan. yang ngajak bisa kaum hawa juga bisa kaum adam. 2. minta nomor telfon. 3. ngajak kenalan lewat sms atau telfon 4.minta ketemuan dan ngobrol tentang hal yang ringan-ringan, kemudian pindah ke masalah sekolah atau pacar, dan selanjutnya menuju ke masalah agama. anehnya lagi aliran sesat ini juga merekrut warga non-muslim.

bagaimana kita mensikapinya ? Apa tameng kita untuk menolak aliran-aliran sesat ?
Pertama:
Pahami Agama Islam dari dasar. Islam itu tidak mengenal kelompok atau organisasi. Nabi Muhammad sama sekali tidak mengajari agar orang muslim berkelompok-kelompok, namun Orang muslim harus mengamalkan ibadah secara ikhlas langsung kepada Allah SWT.
Kedua:
Ibadah seorang Muslim tidak pernah terkait dengan organisasi, lembaga, aliran, golongan atau mazhab.
Ketiga:
Setiap organisasi, lembaga, atau aliran pasti mengandung kepentingan duniawi di luar kepentingan Allah SWT. Kepentingan duniawi ini dapat berupa: Pengikut, untuk politik, untuk mengumpulkan harta benda, untuk pelecehan perempuan, untuk memperbanyak pengikut, untuk men-tener-kan nama dirinya atau nama kelompok.
Keempat:
Islam itu adalah Berilmu-Beribadah-Bertaqwa-Beramalsalih. Ilmu adalah pondasi agama Islam, setiap Muslim harus mencari ilmu seluas-luasnya dan tidak boleh terikat dalam batasan kyai, batasan organisasi, atau batasan aliran. Setiap Muslim wajib tidak boleh berhenti pada satu pemahaman agama.
Kelima:
islam itu tidak mengenal uang pendaftaran, uang untuk jihad, uang untuk hijrah, uang pangkal, uang keanggotaan, uang rohani, uang silaturahmi dan jenis uang-uang lainnya.
Keenam:
Setiap Muslim harus mempelajari Al-Qur'an dan tafsirnya secara benar, mempelajari semua hadits yang sohih, mempelajari sejarahnya, mempelajari Fiqh dan syari'at-syariatnya. Seorang ustad atau kyai haruslah yang tidak mengikuti organisasi atau aliran-aliran tertentu. seorang ustadz atau kyai haruslah netral dan tidak memiliki kepentingan duniawi seperti; memperbanyak anggota, memperbanyak istri, memperbanyak uang, memperbanyak nama agar tenar.

Sekolah, Yukss!!! Semangat, dunk!

Sekolah, Yuks!!!



 Senyum siswa-siswi MWI Yang berprestasi.
Mereka yang giat sekolah, mereka yang mendapatkan prestasi.
Prestasi yang akan mereka bawa sepanjang hidupnya.
Banggalah jadi siswa yang berprestasi,
karena prestasi dalam ilmu Pengetahuan sangat sulit diraih.
Uang bisa diraih ... tapi prestasi ? tak bisa ditukar dengan nilai.

Siswa-siswi MWI Karangduwur Refreshing Ke Waduk Sempor. Foto Desember 2009

Pemandangan Waduk Sempor Gombong, dilihat dari Atas. Gimana ? Sip to ?
Tuh liat juga anak-anak MWI lagi memandang luas area waduk. Menurut Psikolog, seseorang yang memandang area hamparan sangat berpengaruh positif kepada pikiran anak. Siswa-siswi yang terbiasa dalam kotak ruangan kelas yang terbatas, menyebabkan anak menjadi stress. nah saat anak memandang ke hamparan luas, stress ini berkurang atau bahkan lenyap. Plong, gitu logh ...
Tuh, kan ... mereka lagi ngeliat pemandangan Waduk Sempor dari atas ....wajah-wajah anak MWI ceria bgt!
 Ni anak kelas 1 Mts WI, lagi berpose di depan pasar seni Goa Jatijajar. (tahun 2009, bulan Des)

Ni anak kelas 3 MTs WI yang lagi berpose juga di depan Pasar Seni Goa Jatijajar (Foto: Desember 2009)





Intermezzo, butuh hiburan kan ?

Warung Lotek Bibi Al,
Masih ingetkan masa-masa sekolah di MWI pasti pernah mampir ke warung Lotek Bibi Al
Nah, yang kangen ma Bibi Al, nih aq bawain fotonya, tuk tamba kangen.
Nah, Foto ini terjadi depan PKU Petanahan sebelah selatan, timur jalan.
 Itu truk biasanya bawa bibit pohon, dan kebiasaan pula pasti parkir di bawah Pohon Asem (Thukulan Klungsu),  entah mengapa pada malam Selasa tanggal 30 Maret 2010, pohon asem itu Tumbang dan menindih truk yang biasa parkir tsb. Gimana menurut kamu ?